Pelaksanaan Zikir Fida' oleh Pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Muwajahah Jambi
Kyai Maulida Ibrahim (Pengasuh Ponpes Anwarul Muwajahah Jambi), bersama masyarakat sekitar pondok dan beserta keluarga besar Nahdliyyin (Nahdlatul Ulama) yang berada wilayah Tangkit Muaro Jambi pada hari Jum'at Malam 02 Februari mengadakan serangkain acara yang terangkum dalam suatu kegiatan Keagamaan yang disebut ZIKIR FIDA'.
![]() |
| Antusias Jema'ah Mengikuti zikir Fida Jema'ah yang hadir membuat tempat (ruangan zikir) menjadi penuh sesak |
Dzikir kepada Allah SWT secara berjamaah sudah menjadi kebiasaan umat Islam khususnya di Indonesia, terutama dikalangan para Nahdliyyin (Nahdlatul Ulama). Salah satu bentuk dzikir secara berjama’ah adalah pada acara atau kegiatan Tahlilan, yang pada acara tersebut dibacakan tawassul, dzikir dan do’a untuk orang yang sudah meninggal. Pada acara tahlilan tersebut juga sering dibacakan Dzikir Fida’ atau yang lebih terkenal dengan tahlil atau dzikir ‘Ataqah. Dzikri Fida’ atau ‘Ataqah merupakan dzikir penebusan, yaitu menebus kemerdekaan diri sendiri atau orang lain dari siksaan Allah SWT. dengan membaca: Laa Ilaha Illallah. sebanyak 70.000 (tujuh puluh ribu), atau dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali.
Pengertian Dzikir Fida
Secara bahasa, fida berasal dari kata dalam bahasa Arab yang artinya "tebusan". Sementara menurut istilah, fida artinya penebusan dosa atau pembebasan dari dosa-dosa.
Mengutip buku Pendidikan Islam Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah Kajian Tradisi Islam Nusantara oleh Subaidi, dzikir fida atau disebut juga ataqah adalah ungkapan umum untuk bacaan surat Al-Ikhlash yang diiringi dengan kalimah thayyibah seperti tasbih dan tahlil dengan jumlah bilangan tertentu.
Dzikir fida tersebut bertujuan agar orang yang membaca dzikir dan orang yang sudah meninggal dunia diberi ampunan oleh Allah serta dibebaskan dari api neraka.
Praktik dzikir fida sebenarnya sama dengan tradisi tahlilan yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Namun, yang membedakan dalam dzikir fida ini adalah terdapat beberapa bacaan, salah satunya kalimat tahlil yang dibaca hingga 70 ribu kali.
Teknis pelaksanaannya pun sama dengan tahlilan, yaitu dengan mengumpulkan masyarakat sekitar yang diiringi niat untuk menghadiahkan bacaan dan kalimah thayyibah kepada orang yang sudah wafat.
Meski demikian, dzikir fida juga dapat ditujukan untuk diri sendiri sebagai upaya memohon ampunan kepada Allah agar setelah meninggal dapat dibebaskan dari siksa neraka.
Jenis-Jenis Dzikir Fida
Para ulama membagi dzikir fida menjadi dua jenis, yaitu dzikir fida kubra atau ataqah kubra dan dzikir fida shugra atau ataqah shugra.
1. Dzikir Fida Kubra
Dzikir fida kubra adalah istilah untuk bacaan surat Al Ikhlas sebanyak seribu kali atau 100 ribu kali. Fida kubra dapat diartikan sebagai pembebasan besar dari siksa api neraka.
Bacaan surat Al-Ikhlas yang merupakan dzikir fida kubra sebagai berikut:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
1. Qul huwallaahu ahad.
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa."
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
2. Allaahus-samad.
Artinya: "Allah tempat meminta segala sesuatu."
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
3. Lam yalid wa lam yulad.
Artinya: "(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan."
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
4. Wa lam yakul lahu kufuwan ahad.
Artinya: "Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia."
2. Dzikir Fida Shugra
Dzikir fida shugra adalah ungkapan untuk bacaan kalimat tahlil (Laa Ilaaha Illallah) sebanyak 70 ribu kali atau 71 ribu kali. Fida shugra dapat diartikan sebagai pembebasan kecil dari neraka.
Berikut bacaan tahlil yang merupakan dzikir fida shugra:
لا إله إلا الله
Laa Ilaaha Illallaah.
Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah."
Dzikir fida di atas bisa dilaksanakan secara perorangan atau berjamaah, diiringi dengan niat untuk diri sendiri atau untuk orang yang sudah meninggal.
Selain itu, pembacaan dzikir bisa dilakukan dalam satu kali majelis atau dicicil. Jadi, tidak diwajibkan untuk menyelesaikan bacaan dzikir hanya dalam satu kali duduk atau berturut-turut.

Posting Komentar