Khataman Kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an
Ponpes Anawarul Muwajahan Jambi, alhamdulillah Ponpes Anawarul Muwajahah (Anha) telah mengadakan serangkain acara dengan topik Khataman Kitab AT-Tibyan fi Adabi Hamatil Quran yang dilaksanakan pada Selasa Malam (ba'da Isya) tanggal 7 Maret di Ponpes Anwarul Muwajahah Tangkit Jambi. acara ini akan dihadiri oleh Para santri, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar Jambi.
![]() |
| Pelaksanaan Acara Ponpes Anawarul Muwajahah |
Abina Habil Maulida Ibrahim, dalam hal ini adalah sebagai pengasuh dan menjadi narasumber dalam acara ini bermaksud untuk memberikan pencerahan tentang salah satu cabang ilmu agama islam yaitu tentang Kitab At-tibyan.
Tujuan dari acara ini nantinya akan menjadi salah satu kurikulum pondok yang bersifat umum yang berbentuk kajian rutinitas yang selalu akan dibuka untuk umum, topik ini sengaja di angkat oleh Pengasuh Pondok Anha agar meningkatkan cinta kepada Al-Qor'an sebagai pedoman dan petunjuk seorang muslim dalam beraktifitas dengan kehidupan sehari - harinya.
Abina Habil Maulida Ibrahim, Pak kyai sapaan para santri dan masyarakat, dalam kajiannya menyampaikan tentang rangkuman Kitab At-tibyan fi adab Hamalatil Quran adalah :
Kitab At-Tibyan mengulas banyak hal tentang akhlak atau adab yang harus dijaga saat berinteraksi dengan Al-Qur’an, ditulis/dikarang oleh Imam Abi Zakariya Muhyiddin Yahya ibn Syarafuddin An-Nawawi dari Damaskus, atau familiar disebut Imam An-Nawawi. Nama Imam An-Nawawi cukup populer di kalangan pembelajar pesantren, baik santri maupun ustadznya karena banyak karyanya dikaji dalam Pengajian Kitab Kuning, seperti: Al-Arba’in An-Nawawiyah, Al-Adzkar, Riyadus Shalihin, dan Minhajut Thalibin.
Karya-karya Imam An-Nawawi banyak meringkas berbagai bidang ilmu, sehingga terbilang cukup mudah untuk dipelajari dengan sistematika pembahasan yang menarik, seperti Kitab Al-Tibyan ini yang terdiri atas 10 Bab, yaitu: 1) Sekilas tentang keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an; 2) Keunggulan membaca Al-Quran dan pembaca Al-Quran dibanding selain keduanya; 3) Memuliakan ahli Al-Quran dan larangan menghina mereka; 4) Adab pengajar dan pelajar Al-Quran; 5) Adab penghafal Al-Quran dan pahalanya; 6) Adab membaca Al-Quran; 7) Mengenai adab khalayak umum terhadap Al-Quran; 8) Ayat serta surat yang disunnahkan dibaca di waktu atau keadaan tertentu; 9) Mengenai menulis Al-Quran dan memuliakan mushaf; 10) Bab khusus mengulas istilah-istilah dalam kitab At-Tibyan.
Meski ringkas, At-Tibyan tidak dibiarkan hanya berupa uraian hasil kesimpulan tanpa ada landasan Al-Quran serta hadits, atau rujukan komentar para ulama. Hanya saja, hadits yang dicantumkan disebutkan tanpa rangkaian panjang sanadnya, dan hanya disebutkan mukharrij-nya saja.
Kitab Al-Tibyan adalah Panduan bagaimana cara mengagungkan dan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Al-Qur’anul Karim haruslah dibaca dengan khusyuk, memperhatikan makhraj hurufnya dengan tepat, membelanya dari penakwilan orang yang menyelewengkannya dan gangguan orang yang melampaui batas, membenarkan isinya, menjalankan hukum-hukumnya, memahami ilmu dan perumpamaannya, memperhatikan nasihatnya, memikirkan keajaiban dan mengamalkan ayat-ayatnya yang muhkam (jelas) dan menerima ayat-ayatnya yang mutasyabih (samar), mencari keumuman dan kekhususan, nasikh dan mansukh-nya, menyebarkan keumuman dan kekhususan ilmu-ilmunya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan sangat ditekankan adalah memuliakan Al-Qur’an dari hal-hal yang terkadang terabaikan oleh sebagian orang ketika membaca bersama-sama, diantaranya: Perilaku tidak terpuji dengan tertawa terbahak-bahak, Berbuat bising, Tangannya bermain-main, Bercakap-cakap ketika membaca Al-Qur’an, Memandang kepada sesuatu yang dapat melalaikan dan melencengkan pikiran dan tumpuan, Memandang sesuatu yang tidak boleh dipandang (Semisal: memandang lelaki Imrod (yang mulus wajahnya dan tampan) tanpa keperluan adalah haram, dipandang pula sebagai bukan adab penghafal Al-Qur’an).
Perlu diketahui bahwa orang yang telah selesai menghafalkan Al-Qur’an sebutannya adalah Al-Hamil bukan Al-Hafidz, karena Al-Hafidz itu adalah untuk sebutan orang telah menghafalkan 100.000 hadits. Adapun fadhilah menghafalkan Al-Qur’an adalah akan dikenakannya mahkota kepada kedua orang tuanya. Ada pula ulama yang menyebutkan bahwa Orang yang tidak memiliki hafalan Al-Quran sedikitpun, diibaratkan seperti rumah yang kosong (tidak berpenghuni) dan mudah ditempati syaitan.

Posting Komentar